Butler

Menjadi seorang traveller, liburan adalah salah satu hobiku yang sering sekali jalan-jalan ke suatu tempat baik di hari biasa maupun weekend.  Meskipun melelahkan, aku sudah cukup puas berkeliling di tempat wisata yang mengangumkan dan tidak bisa di lupakan.

Sebentar lagi sudah menjelang sore, aku mengakhiri masa liburan di puncak dan memutuskan untuk mencari hotel terdekat agar bisa beristirahat dengan tenang. Akhirnya kudapatkan sebuah hotel besar nan mewah dengan ciri khas bangunan yang vintage serta bergaya era Victorian seperti istana, hotel itu terletak di pinggir jalan yang terlihat megah sambil memamerkan di hadapan bangunan-bangunan tetangganya. Akhirnya aku memutuskan untuk menginap di hotel mewah itu dan melakukan check in di meja repsionis, aku terpaksa memesan kamar VVIP karena kamar yang lain sudah penuh di isi oleh tamu hotel sehingga aku rela mengeluarkan biaya yang mahal demi beristirahat di kamar mewah di hotel.

Aku pergi ditemani oleh staff hotel yang membawa koperku untuk dibawa ke kamar hotel yang ku pesan, akhirnya kami sampai di lantai 13 tempat di mana kamar hotel yang aku pesan. Aku takjub saat memasuki kamar hotel itu, kamar VVIP itu ternyata lengkap sekali fasilitasnya serta terdapat ruang tamu dan WIFI dengan sinyal yang kecepatannya seperti MotorGP sehingga membuatku merasa nyaman dan bersyukur bisa mendapat kamar hotel yang layak dan mewah. Aku pun berterimakasih kepada staff hotel yang sudah membantuku untuk membawa kopernya dan akhirnya staff hotel pun keluar dan meninggalkanku di kamar hotel.

Malamnya, aku sedang gosok gigi di kamar mandi sebelum tidur, usai gosok gigi aku keluar dari kamar mandi dan mendapati seorang pria muda yang sedang mengelap perabotan di samping tempat tidurnya. Dia tampak seperti memakai seragam hitam seperti orang bangsawan di jaman dulu serta memakai sarung tangan berwarna putih yang ia kenakan, rambutnya bergaya messy berwarna coklat tua dan sayangnya wajahnya tidak terlihat karena pria itu berdiri membelakangiku.

“Eheem.” Aku pura-pura berdehem pelan namun tegas supaya pria itu dengar, pria itu berhenti mengelap perabotan dan menatap kearahku. Ternyata pria itu adalah orang bule dengan kulitnya yang putih dan matanya berwarna hitam dan terlihat sayu, tetapi wajahnya terlihat sangat muda dan tampan seperti pangeran di negeri dongeng. “Maaf, jika nona terganggu dengan kedatangan saya, saya datang kesini untuk membersihkan perabotan kamar.” Ucapnya dengan suara yang pelan sambil menunduk sedikit. “Oh, tidak apa-apa. Maaf, aku tidak tahu ada suara ketukan pintu dari luar karena aku sedang berada di kamar mandi.” Kataku sambil tersenyum. Pria itu hanya terdiam dan tidak membalas perkataanku, ia pun pergi ke ruang tamu untuk membersihkan perabotan yang lain. Tetapi aku merasakan hawa yang dingin dan lembap, Ah—itu paling dari Ac nya saja kok emang dingin kalau malam-malam begini.   

***

Pukul empat pagi, aku merasa kedinginan sekali dan juga kebelet pipis saat aku sedang tidurt. Ac itu seolah-olah ingin membekuku dan mebuat ingin pergi ke kamar mandi karena kebelet pipis, akhirnya aku bangun dari tidur dan beranjak pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil. Rasa lega pun akhirnya nyaman usai buang air kecil, saat aku keluar dari kamar mandi untuk melanjutkan ke alam mimpi, lagi-lagi pria itu terlihat berdiri mematung dan membelakangiku di depan meja. Tangan pria itu menaruh ke belakang punggung, sedangkan tangan yang satunya di gunakan untuk mencolek meja dengan satu jari seperti memastikan tidak ada kotoran satupun di sekitar mejanya.

“Ehemm.” Aku berdehem lagi agar pria itu dengar suaraku, pria itu terkejut dan menoleh kearah ku, tetapi wajah pria itu terlihat pucat pasi yang seolah-olah menatap dingin kearah ku. “Umm—maaf, jika kau merasa tidak enak dengan sikapku ini. Tenggorokanku sedang sakit.” Kataku.

“Maaf, pintunya macet dan aku tidak bisa keluar dari kamar hotel. Bisakah nona membantuku?” ucapnya dengan wajah yang datar. “Perasaan pintunya tidak macet kok,” aku bergegas ke arah pintu untuk mengecek apakah pintunya macet. Benar saja, pintunya terlihat macet ketika di buka dan akhirnya pintu itu bisa di buka. “Pintunya sudah bisa di buka, sekarang anda bisa keluar.” Ucapku sambil mempersilahkan pria itu untuk keluar.

“Terima kasih.” Kata Pria itu sambil berjalan melewatiku dan keluar dari kamarnya. Saat aku menutup pintu, mataku sekilas melihat pria itu berjalan tanpa menyentuh ke bawah lantai sehingga terlihat seperti melayang di ujung lorong. Badanku langsung merinding melihat pria yang sedang berjalan sambil melayang, tetapi tiba-tiba pria itu berhenti di ujung lorong karena seperti dirinya tahu kalau aku sedang mengintip di balik pintu. Merasa takut karena tiba-tiba pria itu mundur kearah kamarku, akhirnya aku menutup pintu itu dengan cepat dan menguncinya dari dalam serta memutuskan untuk bersembunyi di bawah selimut tempat tidur.

***

Keeseokan harinya, aku membereskan pakaian-pakaian ke dalam koperku untuk segera pulang usai liburan. Sebelum keluar kamar, aku selalu hati-hati untuk mengintip dari luar apakah sosok itu masih di ujung lorong, ternyata sosok itu tidak ada dan berganti dengan tamu-tamu yang berlalu lalang di sepanjang lorong. Aku bergegas turun ke lantai satu dan menghampiri ke meja repsesionis untuk melakukan check out dan menanyakan sesuatu. “Maaf mbak, mau nanya donk. Mbak kenal pria staff hotel yang muka bule itu nggak?” aku bertanya ke arah wanita repsesionis. “Maaf, mbak. Saya tidak kenal dengan orang itu karena saya baru bekerja di sini.” Ujar wanita itu dengan sopan.

Sayangnya, beberapa karyawan dan staff hotel tidak pernah mengenal sosok pria misterius itu apalagi bertemunya. Akhirnya aku putuskan bertanya ke seorang security di depan gerbang hotel. Alangkah terkejutnya, security itu menceritakan bahwa dulunya hotel itu adalah sebuah mansion yang dihuni oleh pengusaha kaya dari Belanda. Pengusaha itu punya banyak pelayannya termasuk pelayan pria muda yang ada di kamar hotel dimana aku tempati. Tiba-tiba para Tentara Jepang datang menggebrek tempat mansion dan menghabisi para pelayan serta seisi penghuninya hingga tewas termasuk pelayan si pria. Sedangkan majikannya tidak ada di mansion waktu itu karena sedang bertugas di luar kota. Pelayanan pria itu tewas dengan cara di tembak di kamar hotel oleh Tentara Jepang. Usai menembak pelayan pria itu, Tentara Jepang pergi keluar kamar hotel dan menguncinya dari luar sehingga tentara itu meninggalkan mayat seorang pelayan pria begitu saja di dalam kamar hotelnya dengan keadaan terkunci.

“Orangnya baik kok, mbak. Dia itu sering banget datangin beberapa kamar hotel cuman bersih-bersih perabotan hotel doank termasuk kamar VVIP. Namanya juga dia pelayan.” Jelas security.

FINN

*Cerita ini hanyalah sebuah fiksi.

One thought on “Butler

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s