MY FATHER IS VAMPIRE: HARI AYAH (End )

Lanjutan dari part 1

***

Selamat Hari Ayah! Aku sangat menyayangimu. Aku memberi hadiah ini supaya Ayah sangat suka dengan hadiahku, dan aku rela memberikan darahmu supaya Ayah sangat suka dengan ini. Tetapi aku hanya bisa mendapat ini sebisa mungkin, kuharap ayah harus mengharaginya.

Ayahnya tersenyum kecil membaca surat itu sekaligus bingung melihat surat itu. “Tulisanmu menyentuh sekali, tumben sekali kau membuat surat cinta ini untuk Ayah.” Kata Ayah. Jean hanya tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya. “Eh, itu hanya sebuah surat biasa saja, karena hari ini adalah Hari Ayah jadinya aku memberikan hadiah ini untuk Ayah.” Senyuman ayahnya terlihat mengembang di bibirnya sehingga senyuman itu menjadi hangat. “Ayah tahu kau ingin sekali membuatkan hadiah kasih sayang untuk ayah, kau tahu sekali ya Ayah menyukai darah ini.” Katanya sambil memegang tabung kecil berisi darah Jean dan mengendus darah itu. “Ini terlihat manis dan mirip sekali dengan aroma darah ibumu. Sayangnya, wangi darahmu bukan wangi Stroberi, tetapi seperti buah ceri.”

“Itu menurut penciuman ayah, anggap saja darahku itu adalah sebuah jus ceri.” Kata Jean.

“Darahnya emang mencolok dan seperti jus ceri, tetapi kenapa kau mengambil darah seperti ini? itu terlalu bahaya untukmu.” Ujar ayahnya yang sedikit khawatir. “Umm—maaf, aku sengaja melakukan donor darah di rumah sakit agar aku bisa mendapatkan darahku sendiri untuk Ayah. Jadinya ayah tidak usah langsung mengambil darahku lewat leher.” Jawab Jean.

“Tapi darahmu kan campuran darah vampir, bisa saja manusia itu akan menjadi vampir karena ia didonorkan darah darimu.” Kata Ayah.

“Itu kan hanya darah biasa, lagipula darah vampir dan darah manusia hampir sama warnanya sehingga aku tidak bisa membedakannya, karena aku ini adalah setengah manusia dari ibuku dan juga setengah vampir dari ayah.” Jawab Jean dengan santai. Ayahnya sedikit terkejut mendengar ucapan anaknya dengan santai, kini Jean mengakui bahwa dia adalah sang gadis keturunan vampir dan juga manusia. Tetapi sifatnya tetap seperti manusia normal pada umumnya dan bisa berbaur dengan sesama manusia, fisiknya hampir sama seperti ayahnya dan wajahnya mirp seperti ibunya. Namun Jean terlihat lebih cantik seperti ibunya yang membuat Ayahnya menjadi alasan kenapa dirinya masih menyayangi si anaknya, Jean.

“Sebentar lagi sudah tengah malam, Aku harus pulang karena besok aku harus sekolah. Semoga cepat sembuh, Ayah.” Jean beranjak dari duduknya dan melangkah untuk keluar dari mansion.

“Tunggu.” Kata ayahnya dengan singkat namun tegas sehingga langkah Jean berhenti, Jean menoleh kearah ayahnya yang bangkit berdiri dari duduknya. “Ada apa, Ayah?”

“Di luar sana gelap, kau akan tersesat. Lebih baik Ayah mengantarmu untuk pulang.” Tukas sang Ayah.

“Tidak apa-apa, Aku sudah terbiasa pulang sendiri, Ayah masih sakit dan juga harus beristirahat.” Ucap Jean dengan merasa keberatan mendapat tawaran dari ayahnya.

Ayah hanya terdiam saja tanpa membalas perkataan dari Jean, tiba-tiba posisi ayahnya berpindah secepat kilat dan kini tepat di depan Jean yang sangat dekat sehingga membuat Jean kaget melihat tatapan mata merah ayahnya yang tajam. “Kau harus nurut sama orangtua.” Ayahnya menarik tangan Jean dan membawanya ke rumahnya langsung menggunakan teleportasinya.

***

Jean kaget bahwa dirinya sudah sampai di depan rumahnya, sedangkan ayahnya menatap diam melihat reaksi anaknya ketika sudah sampai di rumahnya. “Ayah khawatir jika kau di serang oleh makhluk-makhluk jahat saat sedang pulang sendiri melewati hutan, mereka sering berkeliaran di tengah malam. Itu alasannya kenapa Ayah mengantarmu pulang cepat.” Jean hanya bisa memandang kaget saja dan tidak bisa berkata apa lagi, “Itu tadi keren sekali seperti waktu Ayah memaksaku membawa ke mansion dulu.” ayahnya hanya tersenyum dan menatapi Rumah Jean yang terlihat sederhana, tiba-tiba wajah ayahnya berubah menjadi muram.

Jean heran melihat ayahnya yang seperti terlihat bersedih dan kemudian memegang pundak sang Ayah. “Ayah kenapa? Sepertinya Ayah terlihat sedih.” Kata Jean dengan khawatir melihat ayahnya. Biasanya dia terlihat sangat dingin tanpa menunjukkan emosi apapun selain manatap sinis, tetapi ini pertama kalinya Jean melihat ayahnya yang tengah bersedih. “Ayah jadi ingat ketika kita tinggal serumah bersama ibumu waktu dulu.” Ucapnya dengan lirih. “Itu sudah lama sekali, Ayah. Aku masih ingat kenangan dulu itu, tetapi kini kehidupan kita sudah berbeda.” Kata Jean dengan pelan sambil menatap rumahnya.

Kini Jean tinggal sendiri di rumahnya sejak bibi angkatnya meninggal, baginya dirinya merasa hampa dan selalu merasa kesepian sejak tinggal sendiri di rumah. Tetapi Jean masih bersyukur masih ada orang-orang terdekat di sekitarnya yang sayang kepada Jean termasuk paman dan ayahnya. Jean menghela nafas dan melanjutkan pembicaraanya, “Aku juga sangat rindu dengan Ayah dan juga Ibu, itu sudah lama sekali dan kita berpisah lama sejak desa kita terbakar habis oleh para pemburu yang sangat kejam. Dan sekarang Aku bersyukur mendapat tempat tinggal layak bersama bibi angkatku yang ia sayangi, Aku senang sekali bisa bertemu dengan orang-orang yang baik dan juga pamanku. Seharusnya Aku ingin tinggal bersama Ayah dari dulu sejak peristiwa menyedihkan di masa lalu itu.” Jelas ucapan Jean sambil tersenyum tulus. Ayahnya membalas senyumnnya dan menatap kearah Jean. “Itu tidak masalah, dan sekarang Ayah bisa tenang dan hidup sendiri di mansion. Ayah tidak akan aman jika tinggal bersamamu di desa ini yang sangat membenci vampir, tetapi kau tetap bisa ke tempat Ayah kapapun kalau kau mau, Ayah selalu menunggumu.”

Jean menatap kearah ayahnya dan mereka saling tersenyum, tiba-tiba Ayah merasakan sangat pusing di kepalanya sehingga tubuhnya oleng ingin jatuh ke tanah. “Ayah!” Jean terkejut melihat ayahnya dan dengan sigap menahan tubuh ayahnya yang hampir jatuh ke tanah, lagi-lagi dia terserang dehidrasi kembali sehingga ia merasakan pusing dan mulai kelelahan. “Sudah kubilang, harusnya Ayah harus beristirahat dan minum darahku yang sudah kuberikan dari awal.” Seru Jean sambil menahan tubuh Ayahnya dan seolah-olah seperti sedang memeluk pasangannya.

Tanpa sadar, tiba-tiba Ayahnya meraih leher Jean dan mendekatinya sambil mengunci tubuh Jean, Jean terkejut melihat gelagat Ayahnya yang aneh seolah-olah ingin tertarik dengan lehernya sendiri. “Maafkan Ayah, Nak. Ayah merasa dehidrasi dan sangat haus sekali untuk meminum darah, dan Ayah lupa minim darah pemberianmu dari awal.” Bisik di telinga Jean yang membuat Jean merasa merinding karena merasakan hembusan nafas dari Ayahnya. “Oh tidak, jangan lakukan itu.” ucap Jean dengan gementar.

“Aroma darahmu manis sekali seperti buah ceri, akhirnya Ayah bisa menghisap darah putriku setelah sekian lama.” Bisiknya lagi dengan suara yang menggoda sehingga Jean merasa ketakutan dan tidak bisa bergerak karena tubuhnya terkunci oleh tubuh Ayahnya. “Ini tidak sakit kok, percayalah. Dulu ibumu pernah di hisap darah oleh Ayah.” Perlahan-lahan, mulut Ayah mendekati ke leher putih Jean untuk bersiap menghisap darahnya. Senyumannya semakin menyeringai dan memperlihatkan gigi taringnya yang siap untuk menusuk kulit lehernya. Sedangkan Jean hanya bisa pasrah sambil memejamkan matanya agar bisa menahan rasa sakitnya.

Gigitannya mulai terasa di lehernya dan sangat sakit sehingga Jean menutup mulutnya dengan rapat agar tidak menjerit kesakitan. Tiba-tiba aksinya berhenti dan Ayahnya melepaskan gigitannya itu dari lehernya sehingga terbentuk sebuah bekas cupang yang membiru di leher Jean. Jean membuka matanya dan melihat wajah Ayahnya yang tampan dengan tatapan yang tajam namun senyumnnya sangat lembut. Jean melepaskan cengkeramannya dari Ayahnya dan memegang lehernya yang terkena gigitan dari Ayahnya. “Kenapa Ayah masih melakukan ini? Untung saja tidak sampai menghisap darahku.”

Ayahnya hanya terkekeh pelan, “Ayah tidak menghisap darahmu kok, hanya saja memberikan sebuah gigitan kasih sayang.”

“Gigitan kasih sayang?” Jean bingung dengan istilah aneh itu dari Ayah, Ayahnya berkata. “Itu tandanya bahwa Ayah sangat menyayangimu, itu saja.” Tukas Ayah.

“Cara ini terlalu menyakitkan, untung Aku hampir saja mati dihabisi oleh Ayah.” Kata Jean sambil meringis kesakitan akibat luka lehernya. “Tidak, Ayah hanya menakutimu saja kok.” Kata Ayahnya sambi tersenyum sambil mendekati Jean lagi. Ayah memegangi wajah mulus Jean dan mencium pipinya dengan lembut yang membuat Jean terkejut. Ayahnya melepaskan ciumannya dan melihat wajah Jean yang kini terdapat semburat merah di pipinya karena merasa tersipu malu. “Selamat malam, Nak. Ayah harus pergi.” Ucap Ayahnya dan meninggalkan anaknya dengan kecepatan kilat. Jean hanya bisa memegang pipinya sambil menatap kosong karena kini Ayahnya sudah tidak ada lagi di depannya.

“Sampai jumpa, Ayah.” Ucap Jean.

FINN

28 tanggapan untuk “MY FATHER IS VAMPIRE: HARI AYAH (End )

  1. Cerita ayah vampir yang sangat menegangkan. Wah, ngga habis mengerti ada ayah vampir yang mencintai anak gadisnya dengna menghisap darahnya.. ngeri…

    Suka

  2. wah ini lanjutannya ya dan akhirnya tamat. aku baca yang pertama, kayanya yang sebelumnya harus di baca juga nih, hehehe

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s