Ke Rumah Kakek

Sebentar lagi matahari berada di ufuk barat, hari ini sudah menjelang sore.Tampak sekelompok burung terbang disekitar langit untuk pulang ke rumahnya. Udara pun sudah mulai dingin sebab sebentar lagi sudah memasuki musim gugur, Herminia duduk di atas perahu air sambil menikmati pemandangan Desa Giethoorn, sebuah desa yang dimana merupakan salah satu desa tersejuk di Negeri Belanda sekaligus di seluruh penjuru dunia. Di sekitar desa kecil itu banyak sekali tanaman-tanaman yang indah serta ditumbuhi oleh rerumputan yang sangat hijau. Para pengunjung masih saja berdatangan kesini untuk sekedar liburan sekaligus menikmati udara segar. Mereka berkeliling di sepanjang sungai dengan menggunakan perahu motor khas Desa itu. Banyak sekali jembatan-jembantan kecil yang kokoh di seberang sungai seta warganya yang terlihat asyik bermain sepeda di desa itu, serta beberapa rumah-rumah sederhana yang khas masih berdiri kokoh di pinggir sungai.

“Sir, saya mau berhenti disitu saja.”seru Herminia sambil menunjuk ke sebuah tepi pinggir sungai untuk turun dari perahu motor, bapak itu mengendarai perahunya dan menepi ke pinggir sungai itu sesuai dengan permintaan Herminia. Herminia pun turun dari perahu nya dan mengucapkan terima kasih ke supir perahu motor itu. Kemudian Herminia berjalan di sepanjang jalan kecil Desa Giethoorn sambil membawa sebuah bucket bunga tulip berwarna ungu untuk kakeknya sebagai hadiah. Akhirnya Herminia sudah sampai di depan rumah kakeknya, rumahnya terlihat sederhana dan tidak lebar serta atap rumahnya terbuat dari jerami yang sama seperti rumah-rumah tradisional disekitar Desa Giethoorn. Tetapi rumahnya terlihat kokoh dan megah sehingga terlihat seperti rumah tradisional pada umumnya dan sangat lebih asri, Herminia mengetuk sebuah pintu coklat tua yang terdapat sebuah hiasan natal yang menggantung di depan pintunya.

“Permisi.” Seru Herminia di depan pintunya sambil mengetuk pintunya perlahan agar pemilik rumahnya tersebut masih ada di dalamanya. Pintu itu perlahan-lahan terbuka dan mendapati sesosok pria tua yang muncul di dalam rumah. Umur nya sudah semakin bertambah tua, rambutnya putih, wajahnya berkeriput, kulitnya putih serta dahinya yang mengkerut, kantung matanya mulai terlihat kendor serta matanya berwarna biru, tetapi badannya kelihat sehat dan bugar hanya saja dia masih memakai sweater berwarna biru tua dan memakai celana panjang berwarna coklat muda. Pria tua itu berdiri sambil melihat ke Herminia dengan tatapan sendu.

“Herminia?” Kakek terkejut melihat cucunya yang datang di depan rumahnya. Herminia tersenyum haru dan memeluk kakek itu dengan erat. “Apakah kakek baik-baik saja, syukurlah aku senang sekali bertemu dengan kakek.” Ucap Herminia sambil terus memeluk erat.

Kakek terlihat bingung dengan keadaan ini dan kemudian mereka melepaskan pelukannya. Kakek itu berkata. “Tumben sekali kamu datang ke sini. Tetapi setidaknya kakek senang sekali karena cucu kesayangan satu ini akhirnya mampir ke sini juga.” Herminia tersenyum mendengar ucapan kakek karena dirinya sangat rindu dengan masakan buatan kakeknya dan juga cerita dongeng klasik yang pernah kakek ceritakan sejak Herminia masih kecil. “Oh iya,” Herminia menyerahkan sebuah bucket bunga tulip berwarna ungu ke kakeknya sebagai hadiah sekalgus sebuah tanda kasih sayang terhadap kakeknya.

“Bunga ini khusus untuk kakek.” Kakek merasa tergirang dan menerima bunga tulip itu dari cucunya. Ia sangat berterima kasih kepada Herminia dan bersyukur karena beberapa anggota kerabat itu masih ada yang sayang kepada kakeknya. “Terima kasih, nak. Cucu satu ini memang baik sekali.” Kakek itu tersenyum lebar sambil menghirup aroma bunga tulip yang harum serta nyaman di hidungnya. “Masuklah, udara di sini sudah semakin dingin.” Kakek itu mempersilahkan Herminia untuk masuk kedalam rumahnya.

 Di dalam rumah itu terlihat sempit karena terlalu banyak berbagai macam perabotan serta pajangan disekitar ruangan. Di ruang tamu itu terdapat sebuah ukiran pajangan yang berjejer di lemari kaca yang dipenuh berbagai ukiran keramik Delf blue  berlukisan desa belanda yang khas tersimpan rapih di lemari kaca. Ada juga sebuah sepatu kayu Klompen yang tergantung di dindingnya serta banyak sekali foto-foto keluarga besar Herminia serta foto kehidupan kakek saat tinggal di Hindia Belanda ketika dirinya masih muda yang terpajang di atas lemari bufet dan di dinding.

“Ah—foto itu sudah lama sekali saat kakek di sana. Ada juga foto kamu saat waktu masih kecil disitu.” Kakek itu tiba-tiba muncul sambil membawa sebuah cemilan dan teh manis di nampannya dan meletakannya di atas meja, kemudian kakek itu balik lagi ke dapur. Herminia tersenyum geli melihat ada foto dirinya yang digendong oleh kakeknya sejak masih bayi. Herminia mulai duduk di sofa berwarna biru tua di ruang tamu sembari menunggu kakeknya yang masih ada di dapur, di meja ruang tamu itu di hidangi sebuah cemilan kecil Stroopwafel  berisi sirup karamel serta secangkir teh manis diatas nampannya. Herminia merasa senang menikmati di rumah kakek itu sekaligus melepas rindu dengan kenang-kenangannya sejak ia masih kecil. Dulu Herminia sering sekali kerumah kakeknya bersama keluarganya ketika berumur tujuh tahun, ia sering bermain bersama kakeknya serta berkeliling di Desa Giethoorn menggunakan sepeda. Bahkan, ia sering sekali pergi memancing bersama kakeknya di pinggir sungai dan bermain ski di sungai membeku saat musim dingin.

Kakek itu datang dari dapur sambil membawa sebuah kayu bakar untuk membakar kayu bakar itu di tempat perapian yang terletak di ruang tamu. Ia merapikan kayu bakar di sebuah perapian dan membakar kayu bakar itu agar ruangannya menjadi hangat. Api itu terlihat menari-nari sambil memancarkan sinar berwarna merah kekuningan di dalam perapian agar ruangannya terlihat terang dan hangat meskipun di luar rumah masih cerah berawan. “Setiap hari, kakek selalu menyalakan perapian ini untuk menghangatkan rumah ini. Musim gugur ini udaranya memang dingin di sini, jadi kakek harus membakar kayu bakar ini agar rumah ini menjadi hangat.” Kakek bangkit dari posisi berlututnya dan kembali duduk di sebuah sofa  berwarna biru tua di ruang tamu, kini mereka duduk berhadapan sambil menikmati cemilan Stroopwafel serta ditemani secangkir teh manis di mejanya.

“Sudah lama sekali aku datang ke sini, bahkan rumah ini tidak berbeda seperti dulu.” Herminia terkagum melihat sekeliling di dalam rumah itu yang sangat tradisional, seluruh ruangan di dalam rumah itu tidak pernah berubah dan masih aja ada perabotan tua serta ukiran-ukiran pajangan yang masih awet hingga kini. Sedangkan kakek hanya bisa tersenyum melihat cucu nya yang kini merasa senang berada di rumahnya, kakek itu menuangkan teh lagi di cangkir nya dan meminum teh itu secara pelan-pelan.

“Tapi perkataan kakek benar juga, sekarang keluarga dan kerabat kita jarang sekali ke rumah kakek, mungkin karena mereka pada sibuk mengurusi diri sendiri serta pekerjaannya. Andai saja mereka berkumpul, kita bisa berpesta bersama di rumah ini serta menikmati hidangn olahan Keju Edam yang lezat buatan mendiang nenek dulu.” ucap Herminia. Kakek itu meletakkan cangkir teh ke meja dan membetulkan posisi duduknya. “itu hanya kenangan masa lalu, nak. Kini kita tak bisa lagi berkumpul bersama dan memilih untuk kehidupan masing-masing, meskipun kita tak bisa bertemu setidaknya kakek masih terus berhubungan kontak untuk menanyai kabar disana termasuk kau. Kakek masih terus mengirim surat hingga menelpon berkali-kali meskipun mereka sangat cuek dan tak pernah membalas surat meupun menanggapi telepon dari kakek.”

Herminia sedih mendengar cerita dari kakeknya. Baginya, Herminia merasa menyesal karena tidak pernah lagi berkunjung ke rumah kakek. Tetapi Herminia hanya bisa berkirim surat atau memberi sebuah hadiah kepada kakeknya saat Herminia kuliah di Inggris. Herminia duduk sambil merapatkan kakinya sambil merapatkan jaketnya agar tubuhnya merasa hangat, udaranya memang dingin diluar meskipun cuacanya cerah serta sudah memasuki musim gugur. Tetapi berkat perapian yang menyala di ruang tamu itulah membuat tubuh mereka menjadi hangat.

“Meskipun aku tak pernah bertemu kakek lagi, tetapi aku sangat menyayangi kakek seperti menyayangi orantua ku sendiri, bahkan aku merasa heran kenapa keluarga dan kerabat lain tidak pernah memberikan kasih sayang secara tulus, aku geram sekali ketika mendengar dari sejumlah kerabat keluarga yang terus membicarakan tentang masalah kakek untuk di bawa ke panti jompo. Maafkan aku kakek karena aku tidak bisa berkunjung kesini karena aku berada di tempat yang jauh, aku berjanji suatu saat aku akan terus merindukan kakek dan sering berkunjung ke rumah kakek.” Kakek terharu mendengar ucapan dari Herminia, kakek hanya bisa bergeming dan tanpa sadar ia mengeluarkan air matanya. “terima kasih, nak. Kamu adalah cucu yang paling baik sekaligus cucu paling kakek sayangi, kakek harap kamu akan mengerti tentang arti cinta dan kasih sayang kepada orang-orang terdekatmu termasuk keluargamu dengan secara yang tulus. Suatu saat kamu akan menjadi anak yang baik sekaligus berbakti kepada orang tua serta menyayangi antara orang-orang terdekatmu.”

Herminia tersenyum dan mengangguk dari nasihat sang kakek, ia berjanji akan terus menjaga nasihat kakek serta menjadi nasihat yang bermanfaat bagi orang-orang. “Oh tidak, sekarang sudah pukul lima sore.” Herminia melihat sebuah jam dinding di ruang tamu yang menunjukkan pukul lima sore bahwa ia harus pulang ke rumahnya sebelum matahari tenggelam, Herminia bangkit dari duduknya sambil membawa tas nya yang ia bawa.

“Terima kasih kakek, aku senang sekali bisa berkunjung ke rumah kakek dan juga Desa Giethoorn. Tapi maafkan aku karena ibuku pasti menunggu ku untuk pulang.” Ucap Herminia.

“Tidak apa-apa, yang penting kakek sangat bahagia sekali karena kamu sudah berkunjung ke rumah kakek.” Kakek bangkit dari duduknya dan menuntun Herminia sampai ke pintu rumah. “Sampai jumpa.” Herminia melambaikan tangannya ke kakeknya sekaligus di balas dengan lambaian kakek dengan tangannya yang terlihat lemah, akhirnya Herminia pergi meninggalkan rumah kakek dan berjalan menyusuri di Desa Giethoorn.

Kini matahari mulai tenggelam di ufuk barat, langit mulai berwarna sedikit kemerahan di ujungnya yang dimana matahari itu berada. Sedangkan seluruh langit mulai gelap disertai munculnya bintang-bintang kecil yang datang menghiasi di langit. Udaranya semakin dingin sehingga ia herus berusaha merapatkan jaket tebal yang ia pakai, pohon-pohon di sekitar desanya mulai berwarna coklat kemerehan yang menandakan bahwa hari ini sudah memasuki musim gugur. Pohon-pohon mulai mengalami rontok sehingga daun-daun nya mulai berjatuhan di Desa Giethoorn.

Tiba-tiba sebuah ponsel berdering di saku jaketnya bahwa ada sebuah pesan sesuatu yang muncul di ponselnya. Herminia mengeluarkan ponsel dari sakunya dan melihat ponsel itu, benar saja ternyata ada sebuah notifikasi pesan dari ibunya. Heminia membuka pesan itu dan kemudian membacanya, tiba-tiba badan Herminia mendadak lemas serta wajahnya terlihat shock ketika membaca sebuah pesan dari ibunya.

‘Nak, sekarang kamu ada dimana? Cepatlah pulang ke Den Haag. Kakekmu meninggal saat di perjalanan menuju ke rumah mu.’

27 tanggapan untuk “Ke Rumah Kakek

  1. cerita kakek…lg viral juga di linimasa dimana ayah nagita bikin sensasi di media…kemungkinan kerinduan akan cucu-cucu dan keluarganya. Hmm, selayaknya kita gak boleh melupakan dan lebih ekstra perhatian kpd org yg ud tua,,,krn mrka emang agak sensi (GINA)

    Suka

  2. Banyak pengalaman kaya gini, seseorang yg datang saat mau meninggal, jadi ke inget sama bapak , sedih banget belum lihat cucu dari anakku udah dipanggil Allah

    Suka

  3. Endingnya twisted, seru juga dan bikin merinding. Kalau boleh, ijin menyampaikan “temuan” ya, beberapa kata dalam kalimat sepertinya lupa dihapus, seperti ” Sekelompok seekor burung terbang”. Mungkin mbak bisa baca ulang, dan menyesuaikannya 🙂

    Suka

  4. Horoooor abisss endingnya gak ketebak, hihihi serem juga kalo diulang balik, jadi itu kakek yang ada di rumah siapa dong? Nah looh nah loooooh

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s