The Vampire (part 3)

Lanjutan dari Part 2

***

Keeseokan harinya, Jean berkunjung ke rumah pamannya untuk menjelaskan semua cerita tuduhan palsunya terkait tentang keberadaan orangtua Jean. Rumahnya tidak terlalu besar dan sederhana. Bangunannya bergaya khas eropa seperti rumah-rumah di sekitar desa, atapnya ditutupi oleh akar-akar tumbuhan yang merambat sehingga menggantung di atas atap tetapi hampir menutupi seluruh dinding rumah yang seolah-olah rumah itu tidak pernah diurus oleh penghuninya. Jean mengetuk pintu kayu yang dihiasi lonceng khas natal di pintunya dan memastikan apakah pamannya ada di dalam rumah.

“Sebentar.” ucap si penghuni dari dalam rumah dan membuka pintunya, tampak keluar sosok pamannya yang masih mengenakan mantel panjang berwarna coklat serta memakai kaos dalam berwarna putih. Ia mengenakan celana piyama berwarna hitam serta rambutnya berwarna coklat yang terlihat acak-acakan seolah-olah habis bangun dari tidur. Paman itu menatap Jean dengan memelas. “Ada apa, Jean?”

“Paman, bisa kita bicara sebentar?” pinta Jean. Pamannya hanya bisa menatap malas sambil menguap mulutnya karena ia masih merasa ngantuk. Paman itu berkata.

“Maaf, Jean. Sekarang paman sedang sibuk, sebaiknya lain kali saja jika kau ingin bertemu dengan paman.” ucap pamannya dengan ketus dan kembali menutup pintunya. Tetapi, pintu itu di tahan oleh Jean dan memaksa pamannya untuk memberitahu tentang cerita keluarga Jean yang sebenarnya.

“Tidak, paman harus jelaskan kepadaku sekarang.” seru Jean.

“Jelaskan apanya, paman sudah malas membahas soal kasus-kasus warga desa hilang lagi.” Ujar pamannya dan kembali menutup pintunya. “Apakah benar aku ini anak vampir?”

Paman kaget mendengar ucapan dari Jean, bagaimana bisa Jean tahu bahwa Jean itu adalah anak vampir. Pama pun mulai panik jika cerita rahasia keluarga Jean itu tersebar ke seluruh warga desa.

***

Kini mereka duduk di sofa ruang tamu dan saling berhadapan. Tatapan Jean terlihat kecewa ke arah pamannya karena dirinya merasa di bohongi dengan cerita keberadaan orangtua oleh pamannya. Sedangkan pamannya hanya menatap heran sambil menuangkan tehnya ke cangkir kecil proselen berwarna biru. “Kenapa kau bertanya begitu?”

“Kemarin aku pergi ke tempat mansion itu dan bertemu si Vampir Berkacamata itu. Dia yang menceritakanku bahwa aku adalah anak dari vampir itu, dia sendiri mengakui bahwa dirinya adalah ayahku dan menceritakan orangtuaku yang sebenarnya.” Kata Jean.

Pamannya terkejut dan berpikir bagaimana bisa Jean pergi sendiri ke tempat mansion yang dimana vampir itu berada. “Jelaskan padaku apakah Paman sengaja menyembunyikan keberadaan orangtuaku dan berbohong kalau orangtuaku mati karena kecelakaan?” Jean mulai merasakan emosi yang menegang dan terlihat seperti menunjukkan kekecewaannya sekaligus menatap sedih ke arah pamannya.

Pamannya hanya terdiam saja dan tidak mau membuka mulutnya karena dirinya tidak sanggup menceritakannya kepada Jean. Tubuhnya menjadi kaku dan terlihat cemas saat Pamannya di interogasi oleh keponakannya.

Paman mulai menghela nafas dan akhirnya membuka suaranya.”Paman tahu, Jean. Sebenarnya paman tidak mau menceritakan masalah ini kepadamu disaat waktu yang tepa. Bibimu sudah tahu tentang orangtuamu, Jean. Tetapi bibimu tidak pernah menceritakan masalah ini demi keselamatanmu.”

Jean sangat kecewa dengan pengakuan dari pamannya bahwa selama ini ternyata dirinya dibohongi oleh paman dan bibinya karena mereka sengaja menceritakan keberadaan keluarganya saat dirinya masih kecil. “Bagaimana bisa bibi itu menemukanku dan menjadikanku sebagai anak angkatnya?” kata Jean.

“Bibi menemukanmu saat kau di rawat rumah sakit akibat kecelekaan mobil. Kata perawatnya, orangtuamu sudah meninggal akibat kecelakaan dan sedangkan kau sendiri selamat dari kecelakaan itu. Disitu kau mengalami amnesia karena terbentur dari bebatuan jurang sehingga kau tidak mengingat kejadian kecelakaan waktu dulu dan juga orangtuamu, karena itulah bibimu merasa kasihan dengan kondisimu sehingga bibi mengangkatmu sebagai anak angkat.” Tuturnya.

Jean hanya terdiam mendengar ceritanya dan berkata.”Tetapi, kenapa Ayah bisa tahu tentang keberadaanku?”

“Paman tidak pernah menceritakan kehidupan paman kepadamu, sebenarnya paman ini adalah adik mendiang ibumu. Aku mengenal ayahmu saat ibumu berpacaran dengan ayahmu di tengah masa perang melawan vampir, ayahmu mendatangi ke rumah bibimu di tengah malam saat kau yang waktu itu masih kecil dan sedang tidur di kamarnya. Tadinya paman sempat membangunkanmu tetapi ayahmu tidak perlu untuk membangunkannya karena dirnya merasa keberatan.” Jean terdiam sesaat saat mendengar cerita pamannya. Jean pun bertanya kembali. “Memangnya ayahku datang ke rumahku untuk apa?”

“Ayahmu kesini untuk memberitahunya karena ayahmu tahu mengenai keberadaanmu dan menyerahkan semua dokumen pribadimu ke bibimu, ayahmu berpesan dan memohon agar bibimu merawat Jean dengan baik dan memperlakukanmu seperti anaknya sendiri. Awalnya bibi merasa takut karena sadar bahwa kau adalah anak vampir, tetapi paman berusaha menenagkan bibimu bahwa kau tidak seburuk dari ayahnya. Paman yakin bahwa suatu saat Jean akan menjadi anak yang baik dan berperilaku seperti manusia pada umumunya.” ucap pamannya.

Jean menatap sedih usai mendengarkan cerita dari pamannya. Jean mengenang kembali sosok almarhum bibi angkatnya yang menunjukkan cinta kasih sayangnya terhadap dirinya dari kecil, ia teringat dengan kebaikan bibinya dan sangat lembut dalam merawat cucu angkat kesayangannya, Jean. Baginya, Jean selalu diperlakukan seperti anaknya sendiri oleh bibinya. Sejak dirinya tidak punya orangtua lagi, Jean semakin dekat dengan bibi angkatnya dan selalu setia kemanapun mereka pergi.

“Pasti ada alasannya kan, kenapa ayahku meminta bibiku untuk mengadopsiku?” kata Jean. Pamannya bingung menjawab apa, Pamannya sendiri tidak tahu apa alasan Ayah Jean meminta bibi angkat Jean untuk mengadopsi anaknya. “Paman tidak tahu, mungkin karena demi keselamatanmu.”

Jean menjadi bingung mendengar jawaban dari pamannya, apakah ayahnya sengaja meninggalkan anaknya karena Ayah sudah tidak menyayanginya lagi.

***

Sorenya, Jean bertugas untuk menjaga pos di sebuah perbatasan hutan dan desanya. Sebagai pemburu vampir, Jean harus rela bekerja lembur dan terus mengejar makhluk-makhluk penghisap darah yang selalu meneror di desanya. Dan sekarang disekitar tempat desanya di jaga ketat oleh kelompok pemburu vampir sejak terjadi banyak kasus korban yang berjatuhan akibat ulah si vampir. Sebentar lagi hari sudah mulai gelap, hutan begitu lebat dan ridangnya pohon-pohon yang menjulang tinggi ke langit, jangkrik mulai bersuara disekitar hutuan dan perlahan-lahan matahari mulai tenggelam di ufuk barat.

Jean tengah bepatroli mengelilingi hutan untuk memastikan agar tidak ada satupun makhluk buas atau vampir yang mencoba mendekati desanya. Biasanya Jean bepratoli bersama rekan-rekannya, kini ia bepatroli di hutan sendiri tanpa di temani oleh siapa pun. Baginya, Jean sudah terbiasa berburu vampir sendiri di hutan dan justru dirinya merasa nyaman dan tidak merasa terganggu. Tetapi, Jean seperti merasa tak nyaman karena ada seseorang yang mengikuti dirinya dari belakang. Jean terus melanjutkan jalannya untuk mencari jalan keluar dari hutan yang gelap, dirinya merasa was-was di sekitar hutan seolah-olah ada yang sedang mengawasinya dari balik pohon.  Jean bersiap-siap mengeluarkan sebuah pedang dari sabuk pedang yang selalu di bawa, Jean semakin was-was hingga ia suara bisikan misterius itu semakin jelas hingga di telingnya.

Jean mengayungkan pedangnya dengan cepat dan mengarah ke sosok wanita misterius yang muncul tepat di belakangnya. Sosok wanita itu adalah seorang vampir yang berambut panjang berwarna merah gelap, wajahnya yang sangat cantik namun menyeramkan dan terdapat sebuah bekas luka yang berbentuk seperti bunga petir di pipinya serta matanya berwarna merah. Ia mengenakan dress panjang merah yang terbuka sehingga memperlihatkan tubuhnya yang seksi serta kulitnya yang putih dan mulus meskipun sebagain di tutupi oleh jubah hitam yang ia kenakan.

“Siapa kau?” seru Jean. Wanita itu hanya menatap dingin dan kemudian tersenyum lebar hingga memperlihatkan gigi taring yang kecil di mulutnya. “Kau sangat kesepian ya, Gadis Manusia.”

Jean menjauh dari wanita itu dan menodong pedangnya mengarah si Wanita Vampir. “Kau ini siapa? Jadi kau yang bersengkokol dengan ayahku agar kau ingin membunuhku!”.

“Nikmatilah, sebelum mereka mengambil jiwamu.” Ucapnya sambil menjilati bibirnya yang merah dan mulai menyerang Jean dengan cepat.

***

Jean terbangun dari tidurnya di bawah pohon besar. Ternyata itu hanyalah mimpi, dirinya masih berada di hutan lebih tepatnya di bawah pohon besar yang tinggi. Jean mengingat mimpi buruknya dan penasaran siapa wanita vampir di dalam mimpi itu, Jean bangkit dari duduknya dan melanjutkan perjalanannya untuk keluar dari hutan itu. Bulan mulai terlihat diatas awan dan sekelompok seekor kelelawar bertebangan menutupi bulan yang indah, Jean menyusuri di sekitar hutan tanpa membawa alat penerangan. Tapi penglihatannya yang tajam dan mampu bisa melihat sekeliling hutan yang lebat berkat bantuan dari sinar bulan yang meneranginya, Jean terus berjalan dan menyingkirkan ranting-ranting pohon dan semak-semak yang berlukar di sekitarnya. Jean melihat ada sebuah cahaya kecil dari jauh dan merasa yakin bahwa cahaya itu adalah jalan keluarnya, Jean berlari sangat cepat menuju arah cahaya jalan keluarnya. Tiba-tiba ia terkejut karena dihadang lagi oleh ayahnya yang muncul tepat di depannya.

Jean berhenti di tempatnya dan merasa kesal karena ayahnya terus mengikutinya. Sialnya lagi, Jean tidak membawa senjata yang ia bawa seperti pedang di sakunya sehingga mau tidak mau Jean harus berusaha untuk bertahan menghadapi si Vampir Berkacamata tanpa menggunakan alat senjata satupun. Jean mulai kesal terhadap ayahnya. “Kau mau apa lagi, jadi wanita itu yang menghasutmu untuk membunuhku.”

Ayahnya hanya menatap sinis terhadapa Jean, matanya semakin tajam ke arahanya yang ingin mengitimidasinya. “Dari kelihatanmu, kau sudah menujukkan tanda-tanda bahwa kau adalah vampir. Ayah bangga padamu karena kau sudah menunjukkan kemampuanmu yang tak biasa dan mirip seperti ras vampir, tinggal beberapa waktu lagi sebentar lagi kau akan berubah menjadi vampir seutuhnya.”

Jean geram mendengar ucapan ayahnya dan mulai melawan. “Aku bukan Vampire.” Teriak Jean dan meninju ke arah ayahnya tetapi tangannya tidak mengenai nya karena ayahnya berhasil menghindar dengan cepat menggunakan teleportasinya. Jean terkejut karena ayahnya tidak ada di hadapannya dan menghilang, Jean merasa lega dan melanjutkan untuk berlari untuk keluar dari hutan secepatnya. Namun sayang, tiba-tiba ayahnya muncul lagi di hadapannya dan menarik tangan Jean untuk membawanya ke tempat lain menggunakan teleportasi.

next Part 4

40 tanggapan untuk “The Vampire (part 3)

  1. Seru nih, karena walau Jean tidak mengakui dia turunan Vampir, tapi tetap darah yang mengalir dalam tubuhnya tetap darah Vampir. Walau begitu, Jean tetap jadi Vampir yang baik.
    Penasaran, Jean mau dibawa ke mana ya, oleh ayahnya? Apa ke istana kalelawar? hehehe

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s