Mendadak jadi pembicara di seminar WAG

Mungkin momen ini gak bakal lupain sekaligus bikin hati aku cukup mendebar saat kejadian hari jumat tanggal 11 yang lalu, yaa ini pertama kalinya aku jadi pembicara di seminar WAG.

Sejak masa pandemi begini, semua acara-acara event maupun seminar dilakukan secara online atau daring. Demi menjaga kesehatan sekaligus memutus penyebaran covid, acara-acara event pun terpaksa harus di gelar secara online lewat Zoom maupun Google Meet seperti webinar. Tapi gak hanya lewat video call kayak webinar aja, sekarang kebanyakan malah seminar nya malah di selenggarakan di WAG alias whatsaap dibanding lewat Zoom atau Google Meet. Pasti punya ada alasannya mengapa seminar nya lebih suka di gelar Whatsaap, yaa agar terlihat sederhana dan juga join seminar pun sangat mudah dan tinggal daftar seminar saja terus dikasih link gc terus tinggal join gabung gc seminar deh tanpa gak usah pake Zoom atau Google Meet yang menurut aku bikin ribet.

Kebanyakan seminar WAG itu free semua dan cuman ngisi syarat & kententuan doank habis itu udah di kasih link dari penyelenggaraannya dan tinggal join deh. Tapi ada kok seminar WAG yang berbayar jika diselenggarkan dari pihak resmi atau dari pembicara yang sangat profesional dan terkenal. Aku sendiri udah sering banget ngikutin seminar WAG kayak tentang kepenulisan gitu, bahkan aku hampir ikut semua seminar WAG sehingga hampir isi chat aku ini kebanyakan grup seminar semua, wkwk. Biasanya kalau ngikutin seminar WAG gitu bakal dapat e-sertifikat dan juga notulen (sebuah catatan materi seminar yang dibuat oleh admin WAG) terkadang juga ada bonus dapat hadiah kalau ada acara ikutan giveaway.

Sekarang sih, aku udah karang ngikutin seminar WAG lagi. Karena yaa kebanyakan tema seminar nya cuman itu-itu aja dan udah aku ikut di seminar sebelumnya, udah gitu memenuhi banjir chat WA aku lagi. Percuma ikutan join seminar, nyimak materi saja kagak. Join WAG seminar cuman ngincer e-sertifikat dan noutulen doank, wkwkwk.

Bagaimana aku bisa mendadak jadi pembicara? bermula saat aku sedang asyik bermain IG di ponsel kesayangan ku. Lagi asyik ngescroll sosmed tiba-tiba ada sebuah pesan di direct IG aku. Aku bingung ini siapa ya kok bisa-bisa nyasar sih ke akun aku, aku buka isi pesan dari seorang misterius itu dan isi pesan nya berisi seperti ini :

Aku kaget donk liat pesan itu, ditawarin jadi pembicara seminar WAG? kenapa dia tau aku di IG. Yang benar saja, aku langsung hubungi kontaknya di WA dan tanya-tanya deh si kaka itu. Katanya dia tahu aku karena dari blog, pokoknya dia iseng-iseng berkunjung di blog aku sehingga punya kesempatan untuk menawarkanku untuk menjadi pembicara seminar WAG. Yaa aku sih yes, ku terima tawarannya dan mulai berdiskusi tentang tema materi yang disampaikan di seminar nanti. Topik materinya tentang literasi dalam pembelajaran bahasa jepang, lumayan mudah dan isinya itu kayak tentang minat literasi bagi pelajar dan remaja. Awalnya mau ngambil tema itu cuman yaa sedikit sulit sih karena katanya topiknya harus literasi dalam pembelajaran bahasa jepang gitu, karena aku jurusan sastra jepang berarti otomatis akan disuruh bahas tentang literasa dalam pembelajaran bahasa jepang.

Karena itu terlalu sulit (aku gak bisa jelasin alasannya kenapa, pokoknya yaa harus sekalian ngajarin budaya dan bahasa nya juga. Padahal aku baru sedikit alias dasar nguasain bahasanya) akhirnya ganti deh judul tema nya yang berjudul “Membangun Budaya Literasi serta Pembelajaran bahasa.” Setelah aku sudah sepakat temanya itu, ya udah deh aku mulai persiapan diri untuk mencari bahan-bahan materi sekaligus menuliskan cerita sharing aku saat di seminar nanti. Jumat tangal 11 September, hari itu adalah hari seminar WAG pun di mulai. Well, aku agak gugup gitu sih pas mau persiapan untuk mulai talkshow di Whatsaap. Tetapi tetap fokus aja dan itu cuman seminar lewat chat doank, belum lagi kalau ngomong beneran lewat Webinar (gugupnya saja malah semakin naik) maklum lah orang aslinya aku gak terlalu pandai berbicara. Di situlah seminar WAG pun dimulai, aku hendak memulai pembukaan terlebih dahulu dan menyapa para peserta di WAG. Habis itu mulai deh ngasih materi + sharing-sharing cerita, peserta WAG nya ramah-ramah kok dan juga pasti orang-orangnya juga baik.

Tibalah saatnya saat acara Q&A nya, menurut aku ini hal paling gampang-gampang sulit disitu. Kadang pertanyaanya kadang gampang kadang nggak, saking sulitnya pertanyaan dari peserta nya. Sampai-sampai aku harus search google dulu biar dapat ide dan jawabannya, kalau nggak aku berusaha jawab sendiri dengan semampunya.

Berikut cuplikan Q&A dari para pesertanya yang bertanya dengan aku :

Q= Bagaimana cara menyikapi keadaan indonesia darurat membaca
selain kita sendiri meningkatkan minat baca kak ?

A= Hmm kalau aku sih soal menyikapi terhadap masyarakat kurang membaca, paling kayak bikin
kampanye minat membaca serta ajakan kepada masyarakat untuk suka membaca. Seperti join
ke komunitas pecinta literasi buku dan terus menyuarakan kepada masyarakat agar rajin
membaca buku lewat poster, tulisan, atau video. Atau biasanya suka ada tuh komunitas literasi
bikin perpustakaan keliling di berbagai daerah termasuk daerah terpencil seperti desa misalnya.
Itu boleh juga tuh kamu bisa bikin kayak gitu
itu saja sih menurut saran aku 🙂

Q= Mengapa membaca adalah salah satu obat melepas stress
dan juga mencagah penyakit alzheimer?

A= karena supaya otak kita kembali menjadi refresh usai melakukan hal aktivitas yang berat. Baca
buku juga bisa melepaskan stress asal jangan baca buku yang isinya terlalu berat seperti buku
pelajaran misalnya, ntar kamu malah semakin pusing dan juga tambah stress. Kalau mau baca
buku-buku cerita yang menarik dan pastinya isinya sangat menghibur.
Untuk karena menghindar alzheimer dan kepikunan, karena buku itu punya ilmu dan
pengetahuan yang luas. Sehingga itu akan mudah untuk membaca buku bagi penderita
alzheimer agar bisa merangsang otak dan otomatis penderita jadi ingat kembali dari isi buku itu
tersebut. Dan juga agar otak nya kembali pulih serta memperkecil risiko terjangkit penyakit
alzheimer.

Q= pertanyaan saya seperti Fakta yang telah dipaparkan kak Alya
bahwa Di era digital ini banyak netizen yang dengan mahabenarnya dalam mengkomentari
suatu konten bahkan sebelum membaca. Hal ini dipengaruhi oleh rendahnya minat baca,
namun ada jg hal lain yang saya rasa berpengaruh yaitu etika dalam berbahasa. Nah, yang saya
tanyakan bagaimana cara kita meningkatkan etika berbahasa dengan problematika seperti
tadi??

A= kalau menurut aku sih, lebih baik baca dulu tulisan caption yang lengkap di tertera konten itu.
Berikan komentar yang jelas dan jangan terlalu sok tahu dulu karena belum baca penjelasan
caption di situ. Dan satu lagi gunakan kata-kata yang bijak dan gak boleh ditambahin kata-kata
kasar. Kalau kamu gak ngerti apa yang di maksud di tulisan caption itu, kamu tetap harus cari di
internet tentang topik yang di tulis di caption konten itu. Kalau sudah mengerti dari penjelasan
di caption konten itu, baru deh langsung komen dengan pendapat kamu yang baik. Dan jangan
lupa komennya tetap harus sopan ya.

Kalau misalnya gak mau baca dan gak tahu apa-apa karena males baca. Lebih baik gak usah
komen aja kalau netizen itu berlagak sok tahu dan gak mau baca caption terlebih dahulu.

Q= Bagaimana cara menumbuhkan sikap rajin literasi untuk
seseorang yang sangat malas?

A= paksakan aja membaca nya supaya semakin rajin membacanya. Kalau bisa buatlah target jam
membaca mu agar kamu terbiasa dengan waktu untuk membaca. Terus baca aja jenis-jenis
buku yg kamu sukai misalnya komik atau novel, terus kalau yang gak suka baca buku yg berat
lebih baik baca aja buku buku yg paling tipis supaya kamu nyaman membacanya serta cepat
selesai membacanya hanya sekali duduk.

Q= Bagaimana bisa kita dapat memahami isi tentang buku /
informasi yang kita baca jika dalam suasana yang ramai ?

A= kalau versi aku, baca aja pelan-pelan. Kalau bisa jangan terlalu baca semua isinya yang penting
baca aja ke bagian intinya. Aku inget kata guru aku (kalau gak salah) jangan terlalu banyak
hafalan di materi buku itu, cukup pahami aja maksud isi cerita tersebut. Kalau mau yg
nyamannya sih, bikin ringkasan dari buku yg kamu baca (jangan terlalu panjang sih) yang
penting tulis aja yg bagian-bagian pentingnya
Oh iya lupa, soal membaca buku di suasana ramai. Yaa emang sih kita tuh emang ganggu banget
kalau kita sedang baca di tempat ramai. Kalau bisa cari aja tempat yang aman serta sepi dari
keramaian. Atau gak, kamu bisa kok membaca sambil mendengarkan lagu (tetapi lagunya yg
instrumen aja supaya kamu fokus dengan membacanya)

Q= Bagaimana seharusnya peran keluarga dalam membangun kesadaran dan budaya
literasi?

A= Sebgai orangtua yg bertanggung jawab dalam peran keluarga. Seharusnya orang tua
harus mengenal dunia literasi serta mengajarkan membaca ke anak- anaknya sejak dini
agar anak- anak nya menjadi mengerti serta pintar membaca. Mengajarkan membaca
kepada anak- anak dari tk pun udah bagus banget tuh soalnya anak- anak masih kecil
(balita) saja udah bisa ngomong dan juga bisa membaca.
Itulah pentingnya kenapa orang tua itu juga harus memperkenalkan literasi serta
mengajarkan kepada anak-anak sejak kecil. Gak cuman anak- anak saja kok, orang tua
pun juga harus membiasakan rajin membaca supaya daya ingat nya menjadi tinggi dan

menambah kaya ilmu pengetahuan nya. Dan juga agar bisa menghindar dari kelupaan
serta juga menghindar dari kepikunan ketika orang tua sudah menuju lanjut usia.

Q= bagaimana cara meningkatkan minat
literasi yang masih minim ini? Solusinya seperti apa?

A= Menurut saran aku, perbanyakin baca bukunya supaya kamu terbiasa dengan membaca
buku. Itu kan sudah aku bicarakan di atas materi nya. Kalau mau ningkatin literasi nya
emang harus banyakin baca bukunya. Kalau bisa bergabung aja dengan komunitas
pecinta literasi supaya minat literasi semakin menjadi-jadi saking kecintaan terhadap
dunia membacanya.

Q= Bagaimana membangun minat membaca peserta didik
dimasa Pandemi Covid-19?

A= Bacalah buku-buku yang sukai atau buku seadanya aja yang peserta didik punya di
rumah? Kalau misalnya gak punya buku, juga bisa kok ber literasi lewat baca e book atau
artikel bermanfaat di internet selama di rumah aja. Yg penting tetap produktif selama di
rumah

Q= Bagaimana cara kita untuk
memanajemen/membagi waktu kita untuk tetap membudayakan literasi sebagai seorang
pelajar atau mahasiswa ?

A= Kalau menurut aku, Bagi bagi aja waktunya antara waktu literasi dan jadwal kuliah/
tugas serta waktu aktivitas lain. Misalnya begini deh di pagi hari ini jadwal nya tuh
sekarang membaca buku supaya otak nya menjadi fresh di pagi hari, intinya jangan
terlalu lama sih waktu membacanya agar gak kemakan waktu dengan waktu jam kuliah
atau ngerjain deadline tugas. Atau kamu bisa atur waktu membaca kamu disaat jam
kosong dan biasanya disitu kegiatannya gabut gak ngapa ngapain. Itu bisa kok di pakai
untuk waktu membaca buku, sedangkan kalau yg sedang kejar deadline tugas di waktu
yang sangat dekat, lebih baik kerjakan tugas aja dulu habis itu baru deh waktu
selanjutnya untuk membaca buku.

Q= bagaimana caranya agar
seseorang meningkatkan minat bacanya jelaskan misalnya dengan keterampilan?

A= Menurut aku sih rajin aja terus membaca bukunya, kayak aku misalnya. Aku tuh suka
sering baca dan literasi lewat artikel di saat waktu yg kosong banget di rumah.
Hmm kalau keterampilan dalam membaca sih paling kayak memahami isi bacaan di
buku itu dan juga menyimak . artinya kegiatan ini hanya menerima atau menyerap
informasi-informasi yang disajikan. Menurut dari sebuah artikel yang aku baca,
Menyimak dan membaca sama-sama merupakan keterampilan berbahasa yang bersifat
resesif, artinya kegiatan ini hanya menerima atau menyerap informasi-informasi yang
disajikan. Menyimak berkaitan dengan penggunaan bahasa ragam lisan, sedangkan
membaca merupakan aktifitas berbahasa ragam tulis.

Q= bagaimana Cara agar agar setiap
individu agar lebih termotifasi untuk membaca Dan menghitung sesuai dengan
kemampuan masing” individu?

A= Waw, pertanyaan yang sedikit membingungkan bagi aku nih.
Yang penting sih kayak kamu paham dengan ilmu- ilmu di buku yang kamu baca itu.
Refrensi buku pun juga bisa kok sebagai sarana motivasi kamu di saat membaca , kayak
misalnya membaca tentang pengembangan diri atau tentang inspirasi dan motivasi. Dan
juga kemampuan dalam membaca buku pun otak akan terasah dengan membaca sebuah
rangkaian tulisan yang mengerti serta daya ingatan nya menjadi tajam selama kamu
membaca bukunya dengan sangat paham

Well, itu saja dari sharing cerita aku ketika mendadak jadi pembicara seminar WAG. Dah lah tulisan nya udah semakin banyak dan panjang. Kalau kamu pernah jadi pembicara seminar WAG gak? Atau gak pernah jadi pembicara di webinar?

2 tanggapan untuk “Mendadak jadi pembicara di seminar WAG

  1. Hi Alya,

    Ditawarin untuk jadi speaker emang bisa buat deg-degan ya haha.. aku dulu juga pernah ditawarin untuk ngebahas tentang traveling. Awalnya aku nerves, tapi ternyata seminarnya melalui WAG jadi lebih tenang, soalnya hanya pakai suara aja hehe

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s