Gadis Enchanter (Part 4)

Mereka mengikuti Ted ke sebuah ruang bawa tanah yang sangat gelap. Ted mengambil sebuah obor yang terpampang di dindingnya dan menerangi sepanjang lorong itu. Suasana nya lembap dan sangat dingin serta auranya sangat mencekam dan menambah kesan horror. Akhirnya mereka sudah sampai di depan pintu berkayu itu. Mereka memasuki ruangan itu yang sangat gelap.

Ruangan itu sangat kecil, ukurannya seperti ukuran kamar mandi. Terdapat sebuah jenedela panjang yang menerima cahaya matahari itu di atasnya. Tetapi sekarang sudah mulai gelap, dan sinar matahari sudah hilang dan berganti dengan sinar bulan. Di depan, terdapat sebuah peti yang sudah berkarat yang berbentuk persegi panjang.

Ted membuka peti itu dengan hati-hati. Ia juga membuka lembaran kain merah yang menutup isi peti itu. Dan Ted mengeluarkan sebuah pedang sakti beserta perisainya dari peti itu. Pedang nya sangat besar dan panjang serta berkilau akibat terkena sinar bulan sehingga menampakkan kristal-kristal biru yang menghiasi gagang pedang itu. Sedangkan perisai juga tak kalah keren, Perisai ini terbuat dari perak di sertai kristal besar bewarna biru di tengah nya.

“Wow!”pekik Peter

“Ini adalah sebuah warisan peninggalan kesatria,” Kata Ted.”Kau harus bisa jadi kesatria yang kuat.” Ted memberikan pedang itu beserta perisai nya kepada Peter. Peter terpana melihat pedang yang panjang itu dan juga perisai nya di genggamnya.

“Kau harus jaga pedang itu dan juga perisainya.” Ucap Mikaela. “Oh iya, bisakah kau berikan pedang itu dan perisai nya ?” Pinta Mikaela

“Untuk apa ?” Kata Peter

Mikaela berpikir sebentar dan akhirnya ia punya ide. Mikaela merebut pedang dan perisainya itu dari tangan Peter. Hal ini membuat Peter menjadi bingung apa yang dia lakukan itu.

Mikaela menggenggam pedang dan perisai nya itu dan berdiam diri sambil menutup mata. Tiba-tiba pedang dan perisai nya itu mengeluarkan sihir berwarna ungu yang berkilau sehingga Peter dan ted merasa silau akibat sinar sihir itu. Sihir itu semakin besar hingga peedang dan perisai itu tampak seperti menyala berwarna ungu. Dan sihir itu mulai menghilang dan Mikaela kembali membuka matanya.

“Aku meningkatkan armor senjata ini supaya senjata nya menjadi kebal dan kuat.” Mikaela menyerahkan senjata itu kepada Peter.

“Kau kira kau mau berpose.” Ujar Peter.

“Hahaha.. memangnya aku seorang model.” Mikaela tertawa

“Umm.. tapi aku ini tidak bisa bela diri, apalagi memakai pedang.” Peter memang tidak suka berolahraga. Baginya, ia memang tidak tertarik dengan jenis olahraga apalagi bela diri. Dan menurut Peter, olahraga sangat melelahkan dan bikin beban.

“Kau harus menyelamatkan warga kami Pet, Aku yakin kau lah yang cocok untuk jadi kesatria selanjutnya. Percayalah padaku.” Kata Ted.

“Ta..tapi”

“Dreadland membutuhkan seorang pahlawan. Dreadland sekarang dalam bahaya,Kau harus bisa mengalahkan naga itu. Dan juga menyelamatkan ibumu. Ini adalah kesempatan yang terakhir.” Lirih Mikaela

Peter hanya bisa terpaku dan menatap pedang dan peisai itu. Peter hanya bisa pasrah dan harus menerima ini. Tapi ia teringat oleh mendiang ayahnya bahwa seorang lelaki harus punya jiwa pemimpin yang tangguh, dan kuat menjadi lelaki yang sesungguhnya.

Malam harinya, Mikaela belum tidur. Ia masih khawatir dengan kondisi ibunya yang terkurung di dalam istana. Ia beranjak dari tempat tidurnya dan pergi keluar rumah. Ia berjalan mengelilingi di sekitar Desa Gnome yang terang karena seekor kunang-kunang yang hadir turut menerangkan seluruh Desa Gnome. Mikaela melihat Peter yang sedang sibuk berlatih bermain pedang di hadapan patung jerami sebagai musuhnya. Peter terlihat semnagat dan terus mengayunkan pedang itu, dan beberapa kali ia mencoba menghancurkan patung jerami itu terus-menerus supaya tingkat kemampuan bermain pendangnya menjadi handal.

Mikaela menghampiri Peter itu dan berkata,”Kau tidak tidur ?” Kata Mikaela.

“Aku tidak akan tidur sampai aku jago bermain pedang.” Ujar Peter

Mikaela kagum dengan semangat nya Peter yang berusaha untuk tidak jadi cowok yang culun lagi.

Tetapi wajah Mikaela menjadi sendu dan ia mulai berkata,”Aku kangen ibuku.” Peter berhenti berlatih dan menatap Mikaela yang sedang sedih. “Hei, aku juga rindu dengan ibuku dan teman-temanku di sana. Bagiku, itu sudah wajar.” Jelas Peter

“Sudah  2 tahun aku tidak bertemu dengan ibuku.” Peter terkejut dengan uacapan Mikaela itu. “Ayahku meninggal sejak aku masih kecil, dan aku yang menjadi tanggung jawabku untuk menghidupi kebutuhan ku dan juga ibuku. Ibuku juga seorang Echanter sama seperti ku. Setiap hari Ibuku pergi keluar desa untuk bekerja sebagai dewan organisasi penyihir di tempat yang sangat jauh. Sehingga ibuku jarang sekali mengabariku dan tidak pernah pulang.” Kata Mikaela.

Peter mendengar cerita Mikaela itu dengan antusias sekaligus merasa kasihan.

“Tapi beberapa tahun kemudian, Ibuku tidak pernah terlihat lagi, dan aku sudah sering bersusah payah mencari ibuku dan sudah beberapa kali aku menanya seseorang di sekitar sini, termasuk para penyihir rekan dekat ibuku. Tapi mereka tidak tahu.” Lanjut Mikaela.”Tapi beberapa kemudian, seseorang memberitahuku bahwa Ibuku diculik oleh seseorang misterius dan di penjara di sebuah istana besar tempat naga hitam itu di sana.” Kata Mikaela

Mikaela tertunduk lesu dan duduk di bangku panjang di depan pohon sakura. Peter menghampiri Mikaela itu dan juga duduk di sebelah Mikaela.

Peter berkata. ”Aku sangat merindukan keluargaku dan teman-temanku di sana.” Peter menghela nafas.”Orangtua ku sudah bercerai sejak aku masih kecil. Ayahku meninggalkan aku dan ibuku sambil menggandeng wanita selingkuhnya.”

Peter menatap sedih dan mengingat seorang ayah nya yang sangat baik dan selalu membawa kebahagiaan di sisinya. “Sejak itulah aku menggantikan posisi ayahku dan Ibuku memutuskan untuk menjadi janda dan sangat trauma dengan pria.” Kata Peter

“Hahaha.. cerita macam apa ini. Ini terdengar aneh dan menjijikan jika di bicarakan.” Peter terkekeh dan wajahnya kembali murung.

Mikaela merasa kasihan dengan keluarga nya Peter sekaligus ikutan sedih mendengarnya. Mikaela jadi ingat dan mengeluarkan sebuah benda dari baju sakunya. “Ayahku membuatkan kalung ini untuk ku.” Mikaela memberikan sebuah kalung berbentuk Dreamcatcher berawarna putih kepada Peter.”Ayahku sengaja membuat kalung ini menjadi dua, yang satu untuk diriku dan satunya lagi untuk seseorang yang sangat special.” Lanjut Mikaela.

Peter sangat takjub melihat kalung itu yang sangat indah.”Wow! Ini indah sekali.” Peter mengamati kalung ini dengan terpesona. Biasanya, Peter tidak suka dengan berbagai macam perhiasan karena terlalu mencolok, apalagi perhiasan perempuan. Tapi Peter sangat suka dengan kalung pemberian Mikaela. “Terimakasih ya.” Ucap Peter.

Mikaela mengangguk dan tersenyum.

“Aku sangat suka sekali dengan tempat ini. Dan rasanya aku ingin tinggal di sini.” Peter senang di dunia dreadland ini sejak kehadirannya Mikaela dan para Gnomes. Baginya, Dreadland sendiri sudah seperti rumahnya sendiri termasuk rumah para Gnomes. Di sini juga Peter juga belajar tentang kebiasaan dan budaya Gnomes di sini. Dan penduduk Gnomes sangat ramah dan juga suka membantu sesame, yang seperti dirinya yang sudah di tolong oleh berkat si Ted, salah satu pemimpin desa Gnomes.

“Jadi yakin kau tidak mau pulang ke tempat asal mu ?.” Sindir Mikaela

“Hei, tentu saja tidak. Aku pasti tetap akan pulang ke dunia nyata. Aku kan sudah rindu dengan ibuku di rumah.” Kata Peter.”Tapi jujur saja, aku sangat senang dengan dunia fantasi ini.” Peter tersenyum senang.

“Kau benar, aku juga senang sekali punya teman sepertimu.” Mikaela tersenyum sambil menunduk. Peter bingung dengan perkataan Mikaela. Bakhkan, ia melihat Mikaela sedang menunduk sambil malu.

Peter heran dan bertanya,”Kau kenapa?” Mikaela tersentak dan langsung mengangkat kepalanya nya.

“Umm.. Tidak apa-apa kok.” Mikaela menggelengkan kepalanya.”Sudahlah, aku ngantuk sekali. Aku mau tidur dulu ya,” lanjut Mikaela.”Kau harus tidur, besok pagi kita akan berangkat.”

Mikaela bangkit dari duduknya untuk kembali ke rumahnya. “Selamat malam.” Ucap Mikaela.

Mikaela pergi meninggalkan Peter sendiri di tempat latihannya. Peter melihat Mikaela dari jauh dengan seksama. Rambut pajang nya mengibar-ngibarkan oleh angin itu di malam yang dingin. Peter merasa detak jantungnya berdebar-debar saat melihat Mikaela itu. Merasakan ada rasa yang terpendam di hati Peter.

Hikks… Apa-apaan nih Peter ! singkirkan dari pikiran ku. Kata Peter dalam hati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s